Feed on
Posts
comments

Balada Bakso Amat

Suatu hari aku sedang ada keperluan bersama suami ke kampus. Berhubung status kami sedang KKN (Kuliah Kerja Nikah) dan kebetulan pula kampus dan jurusannya sama. Selesai urusan di kampus hari sudah maghrib, jadilah kami singgah ke mesjid. Setelah selesai sholat, aku bilang sama suami : “mas.., kita malam ini makan diluar aja yuk? Biar merasakan sedang pacaran” . Loh koq pacaran? Ya iyalah, masa ya iya dong…kita kan baru nikah, nah setelah nikah baru pacaran, gitchu… hehehe… Ternyata keinginanku mendapat gayung bersambut, suami bilang : “oke.., sapa takut.?”. “Enaknya makan apa dan dimana ya mas..”. Aku bertanya. “Terserah adik aja deh, mas ngikut aja ” sambil tersenyum suami menyerahkan pilihannya pada ku.

 

Semasa aku ngampus dulu, ada sebuah warung bakso yang sangat terkenal di kota ini. Dan setiap pergi dan pulang dari kampus, aku selalu melewati warung bakso itu, dan sampai tamat kuliah belum pernah sekalipun merasakan bakso yang kata orang nikmatnya luar biasa. Memang setiap aku pulang kuliah, selalu penuh pengunjung di warung itu. Namanya Bakso Amat. Banyak mobil2 yang parkir di depan warung bakso amat, dan tidak sedikit juga yang naik sepeda motor. Pokok’e pengunjungnya wwuaakeeehh..tenan.. Aku jadi berkesimpulan ‘panteslah banyak pengunjungya mungkin bakso memang mak nyusss…’

 

Kembali ke dialog ku dengan suami. Akhirnya pilihan aku untuk makan malam kali ini jatuh pada warung bakso amat. Sepeda motor suami akhirnya melaju perlahan, dan aku duduk manis di boncengan….

 

Gak terasa kami sudah tiba di Bakso Amat. Malam itu cukup ramai, kami memesan 2 mangkuk bakso, dan 2 gelas jus tomat. Masa penantian dengan perut yang lapar ternyata sangat tidak nyaman…. Akhirnya penantian berakhir juga . Datanglah pesanan kami. Dengan lahapnya dan tak lupa baca bismillah kami mulai melahap….Aku mulai berkomentar tentang cita rasa baksonya. Maklumlah naluri kewanitaan yang selalu suka bereksplorasi tentang makanan selalu berontak, hehehe…

“Sepertinya rasa baksonya biasa aja ya mas..? gak seenak yang adik bayangkan. Menurut mas gimana?”. “Iya juga ya.., masih lebih enak bakso yang di depan sekolah tempat mas ngajar ya kan ?”.. “iya..iya..bener…jauh lebih enak disitu” . Jawabku akur…Walau dengan sedikit kecewa dengan cita rasa bakso yang mengehebohkan ini, akhirnya habis juga.. , hehehe..berhubung lapar sodara-sodara…

 

Suami memanggil pelayan warung untuk membayar. “Berapa mbak ?”, Tanya suamiku.  Si pelayan menyerahkan sebuah kertas yang berisi list beserta harga makanan dan minuman kami. 2 mangkuk bakso dan 2 gelas jus hampir 50 ribu. Aku agak kaget.., haaa…50ribu ?? Fitrahku sebagai wanita kembali bergidik :

 

‘wuihh…mahal banget.., bakso yg didepan sekolah tempat mengajar suami Cuman  5ribu semangkuk plus jus 4ribu. Jadi kalau pesan 2porsi paling abis 20ribu..Disini hamper 50ribu…’ . Kebengonganku berakhir setelah kaget dengan suara suami yang mengajak pulang.

 

Setelah keluar dari warung bakso itu. Aku menceritakan apa yang aku fikirkan tadi sama suami… Ternyata suami juga sefikiran dengan ku. “50 ribu cuman untuk makan semalam ya dik… ? kalau gitu jangan 2kali yah..” suamiku meyakinkan dengan tertawa.. “iya deh mas…”. Sambil cengar-cengir aku menjawab malu…, soalnya aku yang usul tempat tadi. “Mending kita beli bakso di depan tempat ngajar mas ya…udah murah enak lagi…”. “iya setuju…” jawabku masih menahan tawa ingat kejadian barusan..

 

Berhubung keuangan kami sedang cekak, maklum habis pengantin baru belum ada modal trus uang tabungan habis untuk bayar kepeluan kuliah berdua, jadi uang 50 ribu sangat berharga sekali dan akhirnya harus dikeluarkan secara dramatis gini… Maxudnya mau romantis-romantisan eh..malah funny ending….hahahaha…

 

Akhirnya dengan menggandeng tanganku suami mengajak ke tampat parker..dan pulang…tetap sambil ketawa-ketiwi mengingat balada bakso amat…. ah..ternyata walau berakhir dramatis, cukup indah untuk dikenang.. :) :)

Ironi bangsa-bangsa Arab

kenapa bangsa Arab yang menjadi saudara terdekat dan masih berlimpah harta enggan memberikan sumbangan dananya kepada bangsa Palestina”. Tegas seorang penanya melontarkan pertanyaannya pada seorang syeikh Imam Masjidil Aqsha yang bersilaturahim ke Indonesia Ahad kemarin..

Pertanyaan yang menjadi tanda tanya besar dalam benak seluruh ummat Islam yang punya hati nurani, yang memiliki kepedulian akan kepedihan yang menemani hari-hari ribuan anak-anak, janda dan para lansia di Palestina

“Bangsa Arab bukan tidak mau memberikan sumbangan dananya pada rakyat Palestina, mereka mau memberikan sumbangan dananya tapi dengan syarat bangsa Palestina harus tunduk pada Amerika”. Kalimat terakhir ini membuat darahku mendidih..”Sebelum zhuhur tadi saya sudah tiba dimesjid ini, ada seorang laki-laki yang memberikan sebuah amplop pada saya, dan setelah saya buka isinya 50ribu rupiah. Uang 50ribu rupiah dari laki-laki tadi jauh lebih berharga daripada harta-harta bangsa Arab yang ingin memberikan bantuan dengan syarat tadi”. Pekikan takbir langsung menggema di dalam mesjid siang itu.

Banyak lagi pertanyaan yang diajukan peserta munashoroh Palestina ahad siang itu. Yang di tutup dengan penggalangan dana. Ketika akhir acara seorang ustadz maju kedepan dan mengumumkan jumlah bantuan yang berhasil dikumpulkan dari seluruh peserta yang hadir. Dengan suara bergetar menahan haru beliau mengumumkan jumlah uang yang terkumpul sejumlah 64juta sekian ratus ribu, sekian uang real, sekian uang ringgit, 19 gram emas, sekian buah cincin, sekian buah anting-anting, sekian buah jam, sekian buah handphone. Tak terbendung pekikan takbir kembali menggema se saentero mesjid.

Allaahummanshurna ikhwaaninaa fii kulli makaan..

“Baiklah. Permisi kak…, ” Tanpa berlama-lama, anak itu segera meninggalkanku dan kembali menawarkan dagangannya kepada penumpang kereta yang lain dengan pertanyaan yang sama.

Dalam hati aku bergumam, hari gini masih ada jajanan harga lima ratus? Modalnya berapa? Aku terus memperhatikan anak laki-laki kecil itu. Sejurus kemudian, anak itu kembali menghampiri salah seorang penumpang kereta yang telah ditawari kue jualannya barusan.

“Mungkin untuk bekal di tempat kerja, Kak?” tanyanya kembali dengan penuh harap yang ditawarinya barusan bersedia membeli kue dagangannya itu. Kembali si penumpang tersebut menolak tawaran anak penjual kue dengan sama ramahnya. Anak itu pun meninggalkan gerbong kereta tempat aku berdiri dan ia menuju ke gerbong sebelah. Untuk menjajakan kue jualannya tentunya.

Segenap rasa sesal memasuki hatiku saat melihat bocah penjual kue itu berjalan menuju gerbong sebelah. Jadi kasihan aku terhadapnya. Kenapa pula tidak kubeli kue jualannya? Cuma lima ratusan dan penumpang satu gerbong tidak ada yang mau membeli kue jualannya. Padahal masih ada dua lembar ribuan di saku kemejaku, tapi urung kukeluarkan untuk membeli kue itu. Ah… penyesalan memang selalu datang belakangan.

Baru saja anak laki-laki penjual kue itu hendak masuk ke gerbong sebelah, seorang pria setengah baya memanggilnya. Pikirku, mungkin pria tersebut berniat membeli kue anak tadi. Segera anak penjual kue itu berbalik setelah dipanggil oleh pria yang duduk tidak jauh dari tempatku berdiri.

“Ini untuk adik, ” katanya sambil memasukkan (sedikit memaksa) selembar uang sepuluh ribuan ke dalam saku anak penjual kue tadi. Tanpa sempat bicara, bahkan mengucapkan terima kasih pun belum, si anak sudah diminta untuk segera melanjutkan aktivitas menjual kue-kuenya. Anak tersebut hanya tersenyum diam dan melanjutkan berjalan ke gerbong sebelah.

Yang mengherankan, justru sebelum ia masuk ke gerbong sebelah, anak penjual kue tersebut memberikan uang yang diterimanya barusan kepada sepasang pengemis buta (yang menurut dugaanku mereka suami-isteri) yang berada di gerbong yang kami tumpangi. Aku masih saja terus memperhatikan bocah kecil itu. Bahkan kuperhatikan, pria setengah baya yang barusan memberikan uang tersebut juga memperhatikannya.

Dan benarlah dugaanku, pria tersebut memanggil bocah penjual kue tadi dan menanyakan kenapa uangnya diberikan kepada pengemis buta. Anak itu hanya menjawab,

“Emak saya bilang saya tidak boleh mengemis. Saya hanya boleh menerima uang kalau ada yang membeli kue dagangannya, ” jelasnya dengan bahasa Indonesia yang begitu baik dan benar. Deg… Tergetar hati ini mendengar jawaban bocah penjual kue itu.

“Tapi saya ngasih uang emang buat kamu, sedekah, ” lanjut pria setengah baya kemudian.

“Uang sedekah juga sama saja dengan saya mengemis. Emak bilang saya harus jualan kalau mau mendapat uang, bukan mengemis, ” jawab bocah penjual kue itu membuat desiran dalam hatiku semakin menjadi.

“Emang kalo saya beli kue kamu semuanya berapa?” tanya pria setengah baya itu setelah beberapa saat terdiam.
“Dua puluh ribu rupiah, Pak, ” jawab si bocah singkat.

Tak lama kemudian, pria setengah baya itu mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari dompetnya yang ia serahkan kepada bocah penjual kue yang masih tidak kuketahui siapa namanya.

“Ini, saya beli semuanya ya…” pinta pria setengah baya itu dan langsung si bocah dengan sigap membungkus semua kue dagangannya lalu diberikannya kepada pria setengah baya yang masih mengulurkan selembar uang dua puluh ribuan.
“Terima kasih, Pak, semoga rezekinya berkah, ” ujar si bocah penjual kue itu sambil menerima uang dua puluh ribuan darinya dengan penuh senyum. Ah, doa yang menyejukkan, batinku.

Tak terasa kereta sudah sampai di Stasiun Pondok Cina. Banyak juga penumpang kereta yang turun. Termasuk bocah penjual kue tadi. Tampak kesenangan meliputi wajahnya dengan nampan kue yang telah kosong. Mungkin ia akan kembali pulang. Pastilah ibunya merasakan kesenangan yang tak jauh berbeda dengan dirinya, pikirku.

Sepanjang perjalanan menuju kampus tercinta, hati dan pikiranku masih saja tertuju pada bocah laki-laki penjual kue di kereta tadi. Di tengah kesulitan hidup, seorang anak kecil dengan sebegitu konsistennya tetap teguh menjaga harga dirinya dari meminta-minta kepada orang lain. Dia yakin bahwa dengan berusaha, segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Bukan dengan berpangku tangan, mengemis, memohon belas kasihan orang lain, karena kita memang hanya boleh memohon belas kasih padaNya.

Seorang bocah yang usianya mungkin hanya terpaut satu tahun lebih tua dari keponakanku di rumah, sudah harus turut merasakan pahitnya kesulitan hidup. Terlintas dalam pikiranku seandainya yang menjadi bocah tadi adalah keponakanku. Ah, tak tega aku. Bahkan untuk membayangkannya saja. Keteguhan hatinya yang tidak menjadikan tubuh kecilnya sebagai alat mengundang rasa kasihan orang lain patut kuacungi jempol. Ia tahu bahwa semua rezeki sudah diatur secara adil oleh Allah SWT. Tak ada satu pun makhluk kecuali sudah ditetapkan rezekinya. Tugas kita adalah menjemput dan mencari berkah dari karunia Allah SWT tersebut.

Bila ingat diri ini yang mudah mengeluh dan merasa lemah, tentu aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bocah penjual kue tadi. Seharusnya aku bersyukur, rasa lelah yang kurasakan karena harus mencari penghasilan tambahan untuk biaya kuliah dengan mengajar dan berjualan kue—juga— pastilah tidak selelah bocah kecil tadi. Bersyukur, karena aku masih bisa kuliah, di saat banyak orang lainnya yang putus sekolah.

Terima kasih ya Allah. Rasa syukur tak terhingga terus kulafalkan atas hikmah yang kudapat hari itu. Waktu yang lebih lama kubutuhkan untuk menunggu kereta ternyata tak sebanding dengan pelajaran berharga yang disampaikan olehNya melalui kehadiran bocah kecil penjual kue di kereta tadi. Mungkin keadaannya akan berbeda bila aku tidak naik kereta ke kampus hari itu.

Ya Allah, jadikan aku hamba yang pandai bersyukur dan bersabar…

di siang ramadhan hari ini..

huh.. udah lama gak nulis, penyakit malas nya betah banget, ide mandeg, kehabisan kata2, is..is..is.. (ngikut gayanya upin dan ipin.., hehehe… :) )

siang ini, ku nge-brus2 internet, mencoba mencari hal yang menarik. walau perut lapar, cacing udah terkapar.., tapi gak boleh waktu terhabiskan tanpa sesuatu yg berarti, setuju bro.. :)

 buka eramuslim, ketemu satu artikel yang setelah membacanya membuat aku merinding, tapi mbukan karena ada ndedemit loh…, suerrr…!!! :)

itu loh artikelnya menceritakan tentang seorang anak kecil yang berjuang mencari sedikit nafkah tapi tetap memiliki izzah.., tutur katanya santun.., sikapnya sopan dan azzam serta kesabarannya itu loh yang mbuat aku berdecak kagum…subhaanallaah..

seperti membaca kisah Umar Radhiyallaahu ‘anhu dengan seorang anak penggembala kambing.., ingat kan kisah itu ? apa ? nggak ingat ??  is..is..is.. :D.

setelah membaca artikel itu, dalam hati aku berdoa semoga kelak aku dan suamiku dapat mendidik buah hati kami menjadi generasi yang punya izzah diri, seperti dalam artikel itu dan seperti pada kisah umar dengan anak penggembala tadi…

 ini ney.., aku copas dari eramuslim…

mangga..dibaca..

 

Cahaya Hati Bocah Penjual Kue

Oleh Sri Lestari

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8903115050-cahaya-hati-bocah-penjual-kue.htm?other

Suatu siang dalam perjalanan menuju kampus, terlintas keinginanku untuk naik kereta api. Padahal hari-hari biasanya, aku selalu menaiki angkot D-128 rute Warung silah-Depok yang setia mengantarku sampai kampus dan aku cukup turun di depan Toko Buku daerah Margonda. Cukup sekali naik angkot dan hanya membayar Rp2.500, 00.

Tapi entah kenapa tiba-tiba saja saat itu muncul keinginan di luar kebiasaan. Aku ingin berangkat ke kampus naik kereta api. Pikirku, yah sekali-kali tak apalah, lagipula aku kuliah jam satu siang dan sekarang masih jam sebelas.
Setengah dua belas aku sampai di stasiun kereta Lenteng Agung. Bagi orang lain, mungkin hal ini sangat membuang-buang waktu.

Sampai stasiun, menunggu kereta. Padahal kalau aku mau lebih cepat sampai kampus, cukup naik angkot satu kali lagi ke arah Depok. Tetapi aku tetap menunggu kereta jurusan Bogor tiba. Memang, aku hanya turun tiga stasiun berikutnya, yaitu stasiun Pondok Cina.

Sambil menunggu kereta tiba, kubuka tas dan kuambil salah satu buku yang dihadiahkan oleh salah seorang sahabat pada milad (ulang tahun-red)-ku Oktober lalu. Hampir pukul dua belas kereta api jurusan Bogor baru tiba. Kulangkahkan kaki kananku masuk ke dalam kereta. Setelah melihat sekeliling, tak ada tempat duduk kosong. Berdiri pun tak apa. Lagipula alat transportasi rakyat murah meriah begini, untung-untungan bisa dapat tempat duduk.

Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang anak laki-laki kecil penjual kue —yang kutaksir usianya baru enam tahunan—menjajakan dagangannya. Satu hal yang membuatnya berbeda dengan pedagang lainnya di kereta yang aku tumpangi, adalah caranya menawarkan kue dagangannya. Saat ia menghampiriku, dia menawarkan dagangannya kepadaku sama seperti yang ditawarkannya kepada penumpang kereta lainnya.

“Assalamualaikum… kakak, apakah kakak mau membeli kue? Hany a lima ratus rupiah saja, Kak, ” tawarnya.
“Wa alaikum salam. Nggak Dik, makasih, ” jawabku.

to be continued…..

 

Sang Murobbi….

Ribuan Langkah Kau Tapaki
Plosok negeri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman TUHAN mu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak runtuhkan ‘azzam mu
raga

kan

terluka tak jeri

kan

nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

=====================================

http://klubkitakemon.multiply.com/video/item/6/Trailer_Film_Sang_Murabbi_ke-2

Film yang memberikan cahaya di balik suramnya masa depan ummat
Mengembalikan spirit para pelaku dakwah yang mulai melemah
Tak disadari airmata menetes mengenang taujih-taujih mu
Walau tak pernah sekalipun bersua
Tapi kokohnya ruhiyahmu, berkobarnya HIMMAH dalam dadamu
Telah menggelorakan ruh dan AZZAM dalam dada ku
Untuk terus mengokohkan pijakan di jalan dakwah ini
Walau raga teluka
Walau fatamorgana menyilau mata

Selamat jalan Yaa Syaikh…
InsyaAllah, kau telah lama di rindukan oleh syurga

Seminggu
telah berlalu pasca walimah kami. Pernikahan dan walimah adalah salah satu
momen terindah bagi sepasang manusia yang telah dihalalkan olehNYA. Tapi
ternyata kesimpulan itu tidak selalu benar karena apa yang kami alami merupakan
negasi dari kesimpulan itu.

Ada

air mata satu malam persis sebelum walimah, ada gundah yang tak terkira akan
hari esok , akankah doa-doa kami terkabul ? atau DIA ingin menguji kami lebih dari
apa yang sedang kami alami ? wallahu’alam

 

*******************************

 

Tibalah
hari itu… Mereka tak pernah tau, ada sepasang hati yang sedang terluka dengan
luka yang menganga.., ada wajah yang mendung , diliputi gelapnya awan dibalik
senyum mereka yang dipaksakan.

Ada

sepasang jiwa yang sedang meronta, merana karena mereka berdua tak mampu
menjaga hati ROBB nya, menjalankan syariahNYA. Tak mampu menjadi qudwah hasanah
bagi saudara-saudaranya. Sungguh , kasihan sekali mereka berdua dibalik ketidak
berdayaannya. Mereka berdua telah mengusahakan segenap ikhtiar yang mereka
punya, tapi terlalu banyak orang-orang yang takut akan syariat, terlalu banyak
orang yang lebih memilih untuk menyenangkan di hadapan manusia daripada
menyenangkan hati DZAT yang menciptakan mereka.

 

Mereka
yakin, bukan karena doa-doa mereka yang tak terkabulkan, mungkin karena Sang
Kekasih Hati ingin menguji mereka, atau sedikit ingin mengingatkan keduanya
akan  hak-hak Robb nya yang mereka
abaikan. Wallahu’alam…

 

******************************

 

Sekarang
kami ingin menatap ke depan tanpa harus berlama-lama meratapi waktu yang telah
berlalu, walau luka di hati kami akan terus menganga…, walau wajah kami telah
tercoreng di mata manusia, tapi kami tak berputus asa akan luasnya ampunan
dariNYA. Itu sudah cukup mengobati luka di hati kami. Cukuplah Allah bagi kami,
DIA lah yang MAHA MENGETAHUI dan MAHA ADIL

 

 

Jumat,
12 juni 2008

08.15
, coret-coret sebelum mulai kerja…

 

 

 

 

Terkadang Allah ingin menguji
hambaNYA karena ingin agar hambaNYA lebih dekat pada NYA, menangis di
hadapannya, mengemis belas kasihNYA, merengek-rengek minta pertolongan dariNYA.
Tapi terkadang juga hati manusia terlalu kotor untuk melihat keindahan yang agung
ini. Apalagi keindahan terindah dari orang yang sedang dimabuk cinta selain
selalu ingin berdekatan dengan Sang Kekasih Hati, selalu bermesraan dengan
segenap jiwa, tak sedetik pun ingin lepas dari dekapanNYA begitupun bagi
orang-orang beriman Kekasih Sejati nya hanyalah Allah.

 

Saat ini Sang Kekasih Hati ingin
menguji komitmen kami, dalam mengemban risalah dakwah. Kesabaran dalam
menghadapi setiap objek dakwah. Termasuk keluarga yang notabene merupakan objek
dakwah terdekat tapi kerap kali terbaikan

 

Satu minggu ini kami ingin
mengemis belai kasihMU, kami ingin merengek-rengek memohon pertolonganMU, kami
ingin memohon kasih sayangMU karena kami sedang Engakau uji. Sungguh kami tak
ingin menggores hati mereka, orang-orang yang kami cintai dengan komitmen kami
untuk menjalankan syariah Islam. Kami tak ingin ada hati hati hambaMU yang
terluka, tapi kami lebih tak ingin jika hatiMU yang terluka Ya Robb

 

Sungguh kami sangat lemah, kami
hanya seongggok daging hidup yang mencoba untuk memberi makna dari setiap desah
nafas dengan iman. Kami hanyalah makhluq mu yang sangat hina jika Engkau
menghinakan kami. Tapi kami ingin mulia dengan iman. Ya Robb , Engkau berjanji akan mengabulkan doa-doa hambaMU
yang meminta pertolonganmu. Dengan sepenuh asa yang tertanam di jiwa , kami
mohon tolonglah kami atas perkara ini. Aamiin…Allahumaa Aamiin..

 

 

Senin, 02 Juni 2006
luapan hati 6 hari sebelum walimah
15.30, menjelang ashar

session..ta’aruf..,
mendebarkan euy…  ;)

Alhamdulillah,
dengan rahmat dari NYA akhirnya Allah menggenapkan dua pertiga diin ku, tepat
ketika seorang lelaki mulya, dengan keimanan dalam hatinya dengan tulus
menjadikan ku bidadari dalam hidupnya. Sebenarnya kalo di inget-inget antara
sadar dan gak sadar ternyata aku sudah menikah (ngimpi kali ye… :D
, iye kali ye.., hehehe..)

 

 

kanYa begitulah, semuanya terjadi begitu cepatnya
dan mudahnya dengan idzin Allah. Hanya dalam waktu kurang dari 2bulan aku menetapkan
sebuah keputusan besar dalam hidup quh. 2 bulan waktu yang mustahil untuk
sebahagian orang untuk memutuskan hal prinsip ini, tetapi tidak bagiku dan
suamiku. Dimulai dari perkenalan melalui biodata pada awal February melalui
guru ngajiku (eits….tunggu dulu, koq mirip novel atau film AAC yah, emang … :) ), seminggu kemudian kami bertemu untuk pertama kalinya
dengan ditemani oleh guru ngaji kami masing-masing. Disitulah aku melihat dia ,
sosok yang akan menjadi qawwam dalam hidupku(tapi melihat sekilas loh ya kan
masih rodo jaim
jaim eceknya, ups..ketauan.. :D ).

Dalam hati aku membatin, oh tenyata ini toh
orangnya…

Ssss…ttt.., tau gak , bisa kebayang debur ombak
di lautan mengalahkan debur gugup dalam hatiku (walah segitunye……. :D ),
dan ternyata si die juga merasakan yang sama…Tapi alhamdulillah walau deg-degan
tapi gak sampe membuat aku pingsan di tempat (hihihi…. )

 

 

Selanjutnya, proses ta’aruf dimulai…

 

 

 

 

Eng…ing..eng…..

 

 

 

dilanjut
nanti yah….. ;)

 

 

 

 

 

 

 

dilanjut
nanti yah….. ;)

 

 

 

 

 

Alhamdulillah., hari ini aku masih diberi nikmat untuk bisa shoum sunnah, nah kebetulan hari ini, senin ada beberapa karyawan di kantor baru pulang dari perjalanan dinas ke batam. Nah, jadi seperti biasa di ruangan kebanjiran oleh-oleh khas batam. Jadi ada bapak-bapak yang tak melewatkan oleh-oleh itu. Dia mengambil cokelat , dan habis dimakannya satu. Trus sore tadi ternyata masih ada satu cokelat lagi yang tersisa, dan dia mengambil lagi cokelat terakhir itu.

Sudah di sobeknya bungkus cokelat, tiba-tiba dia nanya sama aku, : “wi hari ini puasa ya ? jam berapa bukanya ?” . Aku menjawab seadanya : “insy4jj1 saya puasa pak, biasanya hamper jam7 nanti baru buka”. Beliau berkata lagi : “nah ini cokelatnya buat dewi aja, mau saya makan dan udah saya buka bungkusnya, tapi saya teringat kalau dewi sedang puasa. Jadi buat dewi aja neh, ambil cokelatnya”. Agak bengong , dan lucu plus hari (hehehe….) aku menerima pemberian dari bapak itu : “wah.., makasih banyak Pak, Baik banget bapak”…

Ya Alloh…, memang indah sekali barokah shoum hari ini. Walau tak seberapa nilai sebuah cokelat, tapi masih sempat-sempatnya beliau mengingat aku yang kebetulan tidak ikut dalam antrian mencicipi oleh-oleh dari batam itu , hehehe…. Padahal cokelat itu tinggal selangkah lagi masuk dalam tenggorokannya dan ternyata di titik itu dia mengingat aku, subhaanalloh….:) . Aku sama sekali gak perduli kalau gak dapat bagian, tapi karena dikasih ya..rezeki ndak boleh ditolak, iya nggak… 

Setelah aku simpan cokelat itu, aku jadi senyum-senyum sendiri. Lucu, sekaligus terharu…(halah.., ya gitulah pokoknya :D )

Ya Alloh.., semoga beliau juga mendapat barokah orang yang berpuasa, karena memberikan ifthor untuk aku. Dan jadikan ia sebaik-baik hambaMU yang sholeh… Aamiin…

Terobosan
seperti apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi masalah kedelai
ini?

Pertama ada intensifikasi dan kedua ektensifikasi. Intensifikasi itu
peningkatan produktivitas yang bisa dicapai dengan bibit unggul. Kita sudah
menemukan bibit unggul yang baik. Amerika bisa unggul dari kualitas atau
produktivitas kedelai, karena mereka menggunakan kedelai transgenik. Jadi

tempe

dan tahu
yang kita makan sekarang ini adalah kedelai transgenik. Tapi
sudah dikaji dan dibuktikan dari sisi kesehatan tidak ada yang membahayakan.
Cuma begitu kita mau menanam tanaman transgenik diprotes ramai juga. Ingat
masalah kapas transgenik dahulu.

Walaupun begitu sudah ditemukan kualitas-kualitas unggul kedelai seperti
anjasmoro. Anjasmoro cocok untuk tahu

tempe

dengan produksi 2-3 ton per
hektar, walau masih kalah dengan Amerika yang 3-4 ton/hektar tapi sudah
lumayan. Dengan tingkat harga yang sekarang sudah layak. Karena dengan
harga yang dahulu sebesar Rp 3 ribu per kilogram memang tidak layak.
Hasilnya kedelai untuk 2 ton itu sekitar Rp 6 juta, ongkos produksi bisa
mencapai 4-5 juta. Jika dibandingkan dengan jagung sebesar Rp 2 ribu,
produksinya 6 ton bisa menghasilkan 12 juta biaya produksi sama. Otomatis
petani lebih memilih tanam jagung daripada kedelai.

Ektensifikasi adalah penggunaan pupuk, penggunaan kapur untuk tanah-tanah
yang asam, penggunaan teknologi budidaya pertanian, penggilingan, alat-alat
mesin pertanian dan sertifikasi atau perluasan lahan. Maksudnya kita akan
hidupkan kembali perluasan lahan-lahan kedelai.

Apakah petani kita tidak bisa bersaing dengan petani dari Amerika ?

Bukannya tidak bisa bersaing. Petani di Amerika ada 2 hal yang
menguntungkan, produksinya disubsidi dan ekspornya juga disubsidi. Hal
inilah yang menyebabkan petani kita kalah bersaing.

Untuk merangsang semangat petani agar mau menanam kedelai, apa yang akan
dilakukan Deptan?

Mengembalikan sentra-sentra produksi yang sudah ada, seperti lahan pertanian
kedelai. Dengan Bulog juga ada kesepakatan. Yang terpenting adalah jaminan
pasca panen. Untuk kedelai saat ini adalah jaminan pemasaran dahulu, karena
soal harga sekarang sudah bagus jadi belum perlu HPP ( Hak Pasca Panen ).
Selain itu ada kemitraan Inkopti dengan petani, kemitraan PERTANI sebagai
opteker dengan petani, kemitraan Bulog dengan petani ini yang akan kita
bangkitkan kembali.

Anda sangat optimistis sekali bisa mengembalikan swasembada kedelai.
Mengapa?

Memang saya sangat optimis karena petani di daerah Grobogan Jawa Tengah bisa
menemukan kedelai baru bernama Malabar Grobogan. Penemuan kedelai baru ini
juga bisa menghasilkan sebesar 4 ton/hektar dalam setahun dengan varietas
unggul.

Jika beras dan jagung sudah swasembada kapan untuk gula, daging sapi dan
kedelai ?

Untuk gula, saya katakan bisa swasembada tahun 2009, kedelai tahun 2011 dan
daging sapi tahun 2014.

Proyeksi lahan dan target produksi untuk kedelai jika swasembada, apa saja
dan berapa ?

Untuk lahan kedelai ada di Aceh, Jawa barat, Jawa Tengah,

Yogyakarta

,
Jawa
Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulewesi Selatan. Total target yang dicapai
sebesar 1.2 juta ton.

Harga kebutuhan pokok saat ini melambung tinggi, beras, minyak dan gula
naik. Banyak yang menyebut saat ini

Indonesia

sedang mengalami krisis
pangan. Bagaimana pendapat anda?

Tergantung dari sisi mana mereka menilai. Saya melihat semuanya tercukupi.
Apakah dengan tidak bisa makan kedelai merupakan orang susah ? Tidakkan
itu? Hanya stigma dan mindset orang perkotaan saja.

Kan

masih ada jagung,
gaplek, tiwul, beras, sagu yang merupakan bagian dari pangan. Dan itu kita
tidak kekurangan hal itu. Makanan pangan itu harus dipenuhi karbohidrat,
protein. Jadi konsepsi pangan ini yang harus diperbaiki.

Sedangkan dari sektor hewani seperti daging ayam dan telur juga sudah
swasembada. Untuk daging ayam negara kita berada di urutan 150 di seluruh
dunia. Kedelai urutan ke 11 jadi kalau disebutkan negara kita merupakan
pengimpor terbesar itu tidak betul.

Jaminan dari proyeksi lahan di tahun 2011 itu apa ?

Jaminannya adalah harga yang stabil. Untuk kedelai harga yang stabil adalah
Rp 5.500. Namun sekali lagi pertanian itu tidak bisa berdiri sendiri. Ingat
nggak pada tahun 2005 pemerintah meningkatkan biaya masuk sebesar 25 %,
rakyat teriak. Padahal tujuannya untuk meningkatkan produksi dalam negeri.
Makanya saat ini dilakukan secara bertahap yaitu 10 % dahulu.

Older Posts »