di siang ramadhan hari ini..
September 6, 2008 by ayyash
huh.. udah lama gak nulis, penyakit malas nya betah banget, ide mandeg, kehabisan kata2, is..is..is.. (ngikut gayanya upin dan ipin.., hehehe…
)
siang ini, ku nge-brus2 internet, mencoba mencari hal yang menarik. walau perut lapar, cacing udah terkapar.., tapi gak boleh waktu terhabiskan tanpa sesuatu yg berarti, setuju bro..
buka eramuslim, ketemu satu artikel yang setelah membacanya membuat aku merinding, tapi mbukan karena ada ndedemit loh…, suerrr…!!!
itu loh artikelnya menceritakan tentang seorang anak kecil yang berjuang mencari sedikit nafkah tapi tetap memiliki izzah.., tutur katanya santun.., sikapnya sopan dan azzam serta kesabarannya itu loh yang mbuat aku berdecak kagum…subhaanallaah..
seperti membaca kisah Umar Radhiyallaahu ‘anhu dengan seorang anak penggembala kambing.., ingat kan kisah itu ? apa ? nggak ingat ?? is..is..is.. :D.
setelah membaca artikel itu, dalam hati aku berdoa semoga kelak aku dan suamiku dapat mendidik buah hati kami menjadi generasi yang punya izzah diri, seperti dalam artikel itu dan seperti pada kisah umar dengan anak penggembala tadi…
ini ney.., aku copas dari eramuslim…
mangga..dibaca..
Cahaya Hati Bocah Penjual Kue
Oleh Sri Lestari
http://www.eramuslim.com/atk/oim/8903115050-cahaya-hati-bocah-penjual-kue.htm?other
Suatu siang dalam perjalanan menuju kampus, terlintas keinginanku untuk naik kereta api. Padahal hari-hari biasanya, aku selalu menaiki angkot D-128 rute Warung silah-Depok yang setia mengantarku sampai kampus dan aku cukup turun di depan Toko Buku daerah Margonda. Cukup sekali naik angkot dan hanya membayar Rp2.500, 00.
Tapi entah kenapa tiba-tiba saja saat itu muncul keinginan di luar kebiasaan. Aku ingin berangkat ke kampus naik kereta api. Pikirku, yah sekali-kali tak apalah, lagipula aku kuliah jam satu siang dan sekarang masih jam sebelas.
Setengah dua belas aku sampai di stasiun kereta Lenteng Agung. Bagi orang lain, mungkin hal ini sangat membuang-buang waktu.
Sampai stasiun, menunggu kereta. Padahal kalau aku mau lebih cepat sampai kampus, cukup naik angkot satu kali lagi ke arah Depok. Tetapi aku tetap menunggu kereta jurusan Bogor tiba. Memang, aku hanya turun tiga stasiun berikutnya, yaitu stasiun Pondok Cina.
Sambil menunggu kereta tiba, kubuka tas dan kuambil salah satu buku yang dihadiahkan oleh salah seorang sahabat pada milad (ulang tahun-red)-ku Oktober lalu. Hampir pukul dua belas kereta api jurusan Bogor baru tiba. Kulangkahkan kaki kananku masuk ke dalam kereta. Setelah melihat sekeliling, tak ada tempat duduk kosong. Berdiri pun tak apa. Lagipula alat transportasi rakyat murah meriah begini, untung-untungan bisa dapat tempat duduk.
Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang anak laki-laki kecil penjual kue —yang kutaksir usianya baru enam tahunan—menjajakan dagangannya. Satu hal yang membuatnya berbeda dengan pedagang lainnya di kereta yang aku tumpangi, adalah caranya menawarkan kue dagangannya. Saat ia menghampiriku, dia menawarkan dagangannya kepadaku sama seperti yang ditawarkannya kepada penumpang kereta lainnya.
“Assalamualaikum… kakak, apakah kakak mau membeli kue? Hany a lima ratus rupiah saja, Kak, ” tawarnya.
“Wa alaikum salam. Nggak Dik, makasih, ” jawabku.
to be continued…..