Feed on
Posts
comments

Sebuah ungkapan bijak mengatakan : “terasanya sebuah nikmat dalam diri kita, ketika nikmat itu sudah 4jj1 cabut”. Begitupun beberapa hari ini, aku kehilangan nikmat makan, karena sakit gigi plus gusi ku bengkak.  Hilang nikmatnya makan, hilang nyamannya tidur, karena sebagian kecil dari diri ini sedang kesakitan.

Ya Robbii…, betapa lemahnya diri ini, tidak ada ada sedikitpun kekuatanku tanpa kekuatan dariMU. Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah.. Tapi begitupun, terkadang hadir riak-riak kesombongan, keangkuhan , merasa diri lebih baik dalam hati ini. Padahal, kemana-mana manusia hanya membawa kotoran dalam isi perutnya. Ya Robb.., peliharalah aku dari penyakit-penyakit hati. Tak sanggup aku membayangkan jika Engkau mengharamkan bau syurga untukkku, apalagi Engkau haramkan jannahMU untukku, karena adanya penyakit hati yang masih tenang bersemayam

Ya Robb.., karuniakan pada ku Qalbun salim, yang sentiasa penuh dengan cahayaMU

Jadi, apa yang harus kita
lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan"
seperti itu?

Pertama, marilah kita bertanya
kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu
"upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang
mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya?


Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses
ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenamya merupakan
sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat
berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk
berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang
buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan
yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot
mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.


Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan
sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para
ulama kepada kita mengatakan," Pendapat kita memang benar, tapi mungkin
salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

 
Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah
pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau
sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita
sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"?


Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan.
Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan.
Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran
objektif, walaupun -karena faktor setan- kita mengatakannya demikian.


Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan
gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah
jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan
kemaksiatan. Tapi, seadainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin
bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus
yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw.,
"Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan
begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi
kita.


Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan
pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah
atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan
dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada
sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar. Karena,
berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh.
Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan
yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap
bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai.
Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman
kepada-Nya.


Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan
keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi darnpak negatif
dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan
kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa
pengalaman salah seperti itu.


Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi
baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis,
tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan
satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya. Dengan begitu, hati kita menjadi
lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan
muncul setelah berialunya waktu. Dan,
alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di
sepanjang pengalaman dakwah kita.


Keempat, sesungguhnya dalam kedaksetujuan itu kita belajar tentang begitu
banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang
makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwah dan persatuan,
tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang
tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan
orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan
dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu
Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh kepada jamaah.


Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari
kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita.
Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang
sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap  beban perbedaan,
memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak
ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan
kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.


Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak
bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak
sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan
tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?


sumber: Menikmati Demokrasi, Anis Matta, Lc

sumber myquran.org postingan dari ARS

"Perbedaan adalah sumber
kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan
itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam
ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah
kita matang secara tarbawi atau tidak?"

Rasanya perbincangan kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas
masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya
tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan
itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan
kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih
besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.
Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang
sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat
kematangan tarbawi yang berbeda.

Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai
dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal,
organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah
bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk
dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan
terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat
di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita
sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena
mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap
hasil syuro.

be continued..

Ini
hari terakhir aku mengumpulkan uang itu, pagi ini aku cek di email, belum ada
yang konfirmasi akan memberi bantuannya. Sobat.., Jujur saat itu aku sedii…ih
banget, ntah kenapa..padahal bukan aku yang rugi (aneh yah.., emang ..
:D ) . Aku tulis email secara japri kebeberapa teman-temanku yang
aku berharap mereka membantu.

Ada

yang aku tanyakan via sms. Alhamdulillah…,
ternyata ada yang mau memberi. Hatikupun mulai berbunga-bunga.., hehehe…

 

Pertama
terkumpul 100ribu, hp ku berdering, ada sms masuk, ternyata temanku mau
membantu , alhamdulillaah…150ribu sudah. Masih belum cukup, aku coba forward permohonan bantuanku ke salah
satu pegawai dikantor. Alhamdulillah
, beliau membalas emailku dan menanyakan beberapa hal. Sudah aku jawab
pertanyaannya. Kemudian aku dipanggil oleh pegawai itu, dan dia menyerahkan
sejumlah uang. “Terimakasih bu”..,
aku ucapkan padanya sambil atara percaya nggak percaya, hehehe…. Aku lihat..,
Ya Robbi…beliau memberikan 350ribu…. Menjelang zuhur , ada yang memberi lagi,
450ribu dari 2 orang. Trus ebrtambah lagi, sampai berjumlah 900ribu….

 

Kemudian,
ibu yang pegawai tadi kembali mengirim email pada ku. Kata beliau , beliau yang
akan menutupi kekurangan biaya operasinya. Subhaanalloh…Ya
Robbi…pertolonganMU sangat dekat ku rasakan. Uangnya segera aku masukkan ke
amplop dan kusimpan dalam tas.

 

Sobat…
tau nggak, saat itu aku seperti ketiban rezeki nomplok , halah.. Pokoknya gitu deh perasaan ku , saking sueneengnya….padahal
uang itu bukan milikku (lucu yah….,
ah..biarin ah.. :D
). Wanita yang akan menerima bantuan itu bilang akan
datang siang, ba’da zhuhur.., aku nggak sabar nunggu, ingin melihat wajahnya
tersenyum, menerima pertolongan dari Allah ini, yang aku yakin pasti surprised banget untuk dia.

 

Waktu
zhuhur tiba, aku bersiap-siap ke mesjid dan tiba-tiba hp ku berdering. Telepon
dari receptionist, informasi dari receptionist ternyata wanita itu sudah
tiba dikantor. Aku langsung menemuinya, dan ya Robb.., wanita itu kurus sekali
sekarang. “Beberapa hari ini mbak sakit,
dek”
. katanya menjelaskan kondisi nya ketika aku bilang “mbak.., koq kurus
banget ?” . “Mbak kita sholat dulu yah..,
setelah sholat kita ke lantai 4 untuk ambil uangnya”.
Ternyata wanit aitu
sedang mamnu’ dan dia hanya menunggu di lobi kantor. Setelah sholat, aku
bergegas ke lobi kembali. Dan aku mengajaknya ke lobi lantai 4, ruangan
kerjaku.

 

Aku
ambil amplop putih yang sudah aku siapkan. “Mbak…., Alloh mengabulkan doa
mbak…, ini ada sedikit bantuan dari temen-temen saya dikantor”
. “Ini pinjam

kan

?”, Tanya nya. “Bukan
, ini untuk mbak, ndak perlu minjem” . “Loh , koq gitu ?” , dia bertanya lagi.
“Ya kalau Alloh udah memudahkan apa yang nggak bisa” , jawabku meyakinkan. Dengan
semangat’ 45 aku ceritakan juga tentang keinginan dari ibu pegawai tadi yang
ingin membantu menutupi kekurangan biaya operasi usus Bantu adiknya. Dan dengan
suka cita, wanita itu sangat gembira mendengarnya. “Ya sudah, sekarang mbak
segera urus ke rumah sakit, tentang biaya dan administrasinya, biar proses
operasnya bisa segera dilakukan”
. “InsyaAllah” , jawabnya….

 

Entah
kenapa hari itu aku rasakan sangat gembira, sudah bisa membuat wanita tadi tersenyum, setidaknya untuk hari
itu, menjadi perantara sampainya pertolongan Allah kepada hambaNYA yang
membutuhkan. Ya Alloh.., terimakasih atas kesempatan berharga ini. Jadikan aku
orang yang bermanfaat buat hamba-hambaMU. Dan berikanlah barokah dan mutiara
hikmah dari peristiwa ini untuk kami semua. Aamiin..Allaahummaa Aamiin

“Tidak berkurang sedikitpun harta dari seorang muslin yang di
sedeqahkan di jalan Alloh, bahkan harta itu akan semakin bertambah”
(hadits Shohih)

Hari
itu seperti biasa waktu zhuhur masuk aku langsung bergegas ke mesjid kantor.
Setelah selesai aku mau balik ke ruangan karena belum makan siang. Tapi baru
aku keluar dari mesjid ada seorang wanita, umurnya paling 2 atau 3 tahun
diatasku . Dia kelihatan seperti mencari seseorang, lalu aku sapa dia , “ada
yang bias dibantu mbak ?” . dari pembicaraan singkat kami, ternyata dia sedang
mencari pengurus baperohis kantorku. Dia ingin mengajukan permohonan bantuan
untuk biaya operasi adiknya yang sedang sakit usus buntu. Lalu aku bawa dia
menemui orang yang dimaksud dan aku temeni sebentar.

 

Dia
bercerita singkat tentang kondisi keluarganya, ayahnya sudah tiada, ibunya
hanya seorang penjahit, dan dirinya adalah seorang mahasiswa yang sudah tamat
D3 tapi dalam ‘status tak jelas’ karena ijazahnya belum diambil, akibat tidak bisa
membayar biaya wisuda dan semua hutang-hutang dengan administrasi kampus. Dan
adiknya baru duduk di bangku SLTP. Adiknya inilah yang sedang butuh biaya
operasi usus buntu.

 

Singkat
cerita satu minggu kemudian wanita itu datang lagi , dan kali ini aku yang
ingin ditemuinya. Oh… ternyata ia minta ditemeni lagi untuk ketemu sama
pengurus baperohis itu. Hari itu dia menyerahkan

surat

permohonan bantuan adiknya, karena
memang harus secara resmi ditujukan ke baperohis. Dia kembali bercerita singkat
tentang hidupnya, yah..aku coba memebsarkan hatinya, sesungguhnya ini ujian
buat dia dan keluarganya, dan Alloh gak akan kasih cobaan itu kalau hambaNYA
gak sanggup.

 

3
Minggu kemudian, di siang hari hp ku berdering, ada telepon masuk. Eh..ternyata
wanita yang 3 minggu lalu minta ditemeni sama aku untuk ketemu sama pengurus
baperohis. Dia bilang kondisi adiknya belum ada berubah, adiknya sampai saat
itu belum juga dioperasi tapi udah beberapa hari mendapat perawatan di rumah
sakit. Pihak rumah sakit tidak mau melakukan operasi itu karena tahu mereka
menggunakan

surat

miskin. Ah…sakit sekali aku mendengarnya……Kemudian dia mengatakan bahwa
sekarang kondisi financial dia yang hanya seorang pelayan di sebuah restorant
sudah semakin kritis, dia sudah kehabisan uang setelah beberapa hari dirumah
sakit. Dan dia berniat meminjam uang pada ku sejumlah 300ribu rupiah.

 

Ya
Alloh.., bukan aku gak mau, saat itu keuanganku bener-bener pas-pasan, aku juga
belum bayar uang kuliah karena uang ku sedang dipinjam sama seorang teman
dengan jumlah yang cukup besar, tapi belum jua dikembalikan. Di saat sempit
begini datang orang yang meminta pertolonganku…Duh..RObbii…gimana aku
menolongnya ? Dia terus mendesakku untuk meminjam uang itu, katanya kalau dia
gajian pasti dikembalikan. Maafkan aku teman bukan aku gak percaya padamu…

Akhirnya
aku sampaikan padanya, “mbak bisa ambil uangnya 2 hari lagi kekantor”. Aku juga
bingung mau uang darimana yang aku pinjamkan. Ah..biarlah yang penting saat itu
dia bisa lega.

 

Pffuuhh….Aku memutar otak, gimana caranya agar uang
minimal dengan sejumlah yang ingin dipinjamnya bisa diberi secara Cuma-Cuma,
kalau dia ngutang pasti akan membebankan dirinya untuk mengembalikan.Tapi
waktuku Cuma 2 hari untuk mencari uang itu. Bismillah…Akhirnya
aku tulis pengumuman di milis khusus teman-teman yang posisi di kantor sama
sepertiku, tenaga lepas. Aku ceritakan kondisi wanita tadi, dan harapan besar
untuk bantuan mereka meringankan beban wanita itu.

[tobe continued...]

Renungan Menjelang Pilgubsu

Coret-coret menjelang tidur  (renungan menjelang pilgubsu)
sabtu/08 feb 2008 23.00-23.30


Demi Alloh, aku letih , tubuhku lelah
dengan segala amanah. Seolah Aku merasa sudah berada pada titik kulminasi
segala kelela
han itu. Aku merasa tidak sanggup memikul segala amanah
ini. Semua amanah ingin dipriorotaskan, semua amanah minta diperhatikan, semua
amanah harus disegerakan. Aku lihat saudaraku yang lain, ada yang masih berada
dalam jurang kelalaiannya, ada yang aktivitasnya biasa-biasa saja, tapi ada
pula yang kontribusi dakwahnya jauh melampaui kader dakwah pada umumnya.
Sampai-sampai waktu tidurnya hanya 2 jam dalam durasi 24 jam perguliran hari.
Belum lagi kedua orangtuaku yang merasa dizholimi dengan kesibukan ku itu.


Ah…, itu hanyalah syahwatku yang
mulai menggoda. Keletihan yang aku rasakan, kelelahan yang menggelayuti seluruh
tubuhku, belum ada seujung kuku penderitaan saudara-saudaraku di palestine, yang
saat ini selimut mereka adalah dinginnya malam dibalik reruntuhan rumah mereka
yang telah hangus di bombardir oleh misil-misil agresor israel. Nyanyian mereka
adalah dentuman roket-roket dan suara tembakan, senandung mereka adalah suara
tangis anak-anak, wanita dan para orangtua yang berada dipuncak ketakutannya.


Ya Alloh betapa malunya aku pada mereka
itu, apa yang aku rasakan tak pantas aku keluhkan, sementara mereka tak pernah
mengeluh dengan penderitaan yang beratus kali lipat dari apa yang aku rasakan.
Aku tak pantas merasa lemah padahal aku masih memiliki banyak saudara yang bersamaku memikul amanah ini, sementara
mereka ditengah isolasi dari dunia luar , mereka punya saudara tapi tak memberi
arti apa-apa meringankan penderitaannya. Tapi dibalik itu semua ternyata mereka
tak pernah sedikitpun merasa lemah di balik segala keterbatasan. Wahai ruh…pantaskah
lidah itu mengeluh ? tidak kah ada rasa malumu ??


Wahai jiwa.., tidak kah kau ingat akan
janji TUHAN mu,
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, jannah Firdaus
menjadi tempat tinggal mereka, mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin
berpindah daripadanya
(QS. Al-Kahfi:107-108)

 

Wahai jiwa…. tidak kah kau tahu, sesungguhnya
TUHANmu telah memberi keutamaan dan rahmatNYA untuk orang-orang yang beriman.
Tidakkah kau lebih menginginkan ridho TUHAN mu dan janji jannahNYA ?


Wahai diri…, apakah kau ragu bahwa di
dalam jannahNYA terdapat kesempurnaan dan kekekalan dengan segala kenikmatan,
tanpa kesusahan dan kekurangan, tidak panas , tidak pula dingin, tidak ada
lelah, letih. Dan tahukah kau wahai
jiwa..,di dalam jannahNYA semua penderitaan hidup, segala keletihan , kelelahan
ketakutan, kekecewaan yang kau rasakan di dunia niscaya akan terlupa. Seolah
seumur hidupmu di dunia kau hanya melewati segala kegembiraan dan kenikmatan
tanpa kesusahan sedikitpun.


Wahai ruhul jadid…., BANGKIT dan BERGERAK
lah demi ROBB mu , demi nabimu, demi ’izzah Diinul Islam….


Renungan untk diri yang mulai lemah akan ruh JIHAD.

Dipersembakan khusus untuk buat saudara2ku di hizbul
’adalah war rofahiyah…, bergeraklah wahai jundulloh.., ummat menanti
kerja-kerjamu. Bersabarlah dalam panjangnya jalan dakwah ini, di jalan ini
jualah yang dipilih oleh nabimu dan para sahabatnya.

 

By : zahra syahidah
Al Faqir dihadapan Alloh

Syukurin aja apa adanya…

Salah satu jargon di rumah ku yang amat populer adalah “Syukurin aja apa adanya”. Kalimat ini menjadi senjata kalau ada diantara keluarga kami yang mengeluh dalam hal apapun . Makanan yang kurang sesuai selera, jatah uang saku yang sedikit dan apapun itu. Kalau udah di keluarkan jurus yang satu ini, seperti di komando kami semua akan serentak menyenandungkan nasyid RAIHAN “Syukur..syukur..syukur…Ya Alloh…, syukur..Alhamdulillah…”, maka yang mengeluh tinggal mesem-mesem ajah, hehehe…….rasain…

Begitu juga dengan adik ku yang paling bontot yang baru duduk di kelas 4 esde, jargon ini sangat familiar di telinganya. Walau terkadang dia juga sering jadi bahan serangan karena sering mengeluh juga, hihihi..lucunya adikku ini….

Suatu ketika…., ibu ku tersayang mengecek buku-buku sekolah adik ku itu. Kemudian tertegun dengan satu halaman di buku tulisnya. Bukan apa-apa ibu tertegun melihat nilai yang tertera di buku itu. Nilai 5 terpampang manis di buku tulisnya :D, Kemudian ibu ku langsung ngomong ke adik : ”Masya Alloh…dek..malunya mamak lihat nilai 5 ini…Gimana mau rangking satu. Gimana mau jadi juara kelas kalau nilainya 5 gini”. Sejurus kemudian, adikku nyeletuk : ”Mak..syukurin aja apa adanya…” .”Hah……” Kening ibuku langsung berkerut…, hehehe……

Kami yang mendengarnya hanya bisa cekakak..cekikik…..nahan geli.., hahaha….

Aku rindu kamu…

Hari ini seperti biasa kerjaku di iringi dengan nasyid dan murottal quran di telinga. Tapi hari ini gak seperti biasanya aku sedang pengen denger nasyidnya maidany, munsyid asal medan. Nasyid cerianya maidany Teman Sehati perlahan mengalun di telinga. Sejenak anganku terbawa ketika 4 tahun yang lalu aku dan sahabat dakwahku mengalun kan nasyid ini dihadapan puluhan mahasiswa baru (tentunya yang wanita dungs.. J ) ketika mereka sedang istirahat jum’at di hari ospek mereka. Kami bukan tim nasyid beneran, ya bisa di bilang tim nasyid jadi-jadian, hehehe..Hanya bermodalkan suara false dan peach kontrol yang berserakan :D…

Entah kenapa aku seakan berada di lorong waktu yang membawa ku ke masa-masa itu. Saat harus meng-handle acara rihlah dengan dana yang minim, ketika acara tak semulus yang di duga, ketika harus tidur seperti susun ikan karena tempat yang terbatas. Tapi ternyata itu semua menjadi kenangan yang menjadi kenangan indah dalam diary hidup ku. Terbayang wajah ukhti ku yang lelah, tapi masih ada canda dan senyum dibalik kelelahannya. Terbayang penatnya para ikhwah yang harus berkutat dengan asap di dapur karena kebagagian masak air dan masak nasi pakai kayu, hehehe…

Ups..koq jadi melamun…ah…aku kembali ke dunia nyata. Tak terasa ada sesuatu yang membuncah dalam dada ini. Kerinduanku pada sahabat dakwah ku. Sahabat perjuangan ku. Wahai pemilik cinta betapa aku merindukan mereka sahabat dakwah ku. Ah..aku haris bilang kepada mereka kalau sekarang "akuuuu kangen..kamu..ukhti qu sayang…. " :)

Aku tulis sms cinta ku itu pada mereka yang ku rindu, alhamdulillah salah satu dari mereka membalas. ”Ukhti sebenarnya din juga merasakan hal yang sama. Kadang muncul kerinduan ketika kebersamaan kita dalam dakwah semasa di kampus.” Duuhh senengnya, ternyata rinduku berbalas. Dan aku kembali mengetikkan sms lagi : ”Semoga 4jj1 menjadi saksi atas cinta ini. Dan semoga ia mempertemukan kita di jannahNYA. Keep Istiqomah ukhti :)”

Ternyata itulah janjiNYA, ketika kita sudah menginfakkan diri di jalanNYA, berjuang bersama para tentaraNYA maka IA akan menghimpun kita dalam hidup yang penuh dengan cinta dan barokah, walau lelah terasa , tiada keluh kesah yang terucap. Walau letih tiada rasa sedih telah memilih jalan ini.

Kepada sahabat ku fillah….Kokohkan kakimu di jalan dakwah ini, bersama kafilah dakwah ini. Fajar kemenangan kan kita jelang walau umur kita tak sampai kala kemenangan itu datang. tapi keringat ini, rasa lelah ini, mata yang kurang tidur, fikiran yang terkuras akan ada pahala yang amat besar di sisinya, insya4jj1. Aamiin..

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu..
Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin.
Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya


Sore ini, di tengah keasyikan ku berkutat dengan script-script PHP, diiringi dengan alunan nasyid di telinga, adzan ashar memanggil ku untuk memenuhi konsumsi ruhiyahku. Ku lihat di lobi lantai 4 ruanganku ku lihat banyak ibu-ibu berkumpul, eh..ternyata mereka sedang mengerumuni bapak-bapak penjual kain. Aku sempatkan mampir , sekedar melihat-lihat. Ya memang bahan kain yang cukup bagus dan sangat manis. Sekilas ku dengar seorang ibu menyebutkan harga salah satu dari kain itu 600ribu. Innaalillaah….

Mungkin aku, seperti orang udik ya prend….”zaman sekarang uang segitu gak ada apa-apanya bro…”, mungkin kamu akan bilang begitu pada ku , hehehe….Tapi suerrr deh kalau aku mah mending uang segitu di tabung, buat simpanan untuk merayakan cinta , ups…ketauan.., hehehe… Sobat ku fid diin, bagi ku yang sudah punya sedikit pegangan tiap bulan sebagai karyawan lepas uang 100 ribu mungkin sangat berharga, tapi tidak sama harganya dengan seorang manajer di perusahaan tempat aku bekerja. Begitu juga, uang 100 ribu itu menjadi sumber pendapatan satu bulan untuk orang yang membantu ibuku di rumah untuk mencuci pakaian. Mendapatkan uang sejumlah itu butuh waktu 1 bulan baru kesampean. Waktu yang tidak sebentar dan penantian yang tidak gampang, menurutku.

Kembali ke kumpulan ibu-ibu tadi, ada diantara mereka yang mengambil 2 stel kain, yang kira-kira harganya kurang lebih 1juta 2ratus ribu rupiah, gubraks !!! Angka yang kecil untuk mereka, pikirku. Sobat, mungkin kita gak bakalan ngabisin uang untuk beli kain, tapi mungkin kita melakukan hal yang sama untuk kepentingan yang lain.  Misalnya, ganti hp baru tipe baru dengan teknologi terbaru, atau pengen ikut trend mode terkini dalam

gaya

hidup dan itu semua membutuhkan dana yang tidak sedikit, iya

kan

? Padahal itu hanya sekedar memuaskan gejolak nafsu kita saja. Seperti ungkapan “sekedar memenuhi kepuasan bathin saja”. Padahal ada sebuah ungkapan dari Ibnu Athaillah :

“Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Alah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana”(Ibnu Athaillah) .

Coba kita berfikir dengan jati yang jernih, apakah hidup kita hanya sebatas memenuhi kebutuhan syahwati saja ? Bukankah keinginan-keinginan itu hakikatnya adalah syahwat yang hukumnya boleh asal tidak jatuh pada isrof (berlebih-lebihan). Kalau hidup kita hanya untuk memenuhi kebutuhan syahwat, apa bedanya kita dengan makhluq Allah yang lain yang tidak diberi anugerah akal seperti halnya binatang ? bukan kah Robb mu sering sekali memperingatkan dengan bahasa “’Afalaa Ta’qiluun , apakah kamu tidak punya akal ??” . Atau bahasa kitanya : “dimana otak loe….!!” Sebagaimana seorang ulama Imam Al Ghazali mengatakan :

"Yang paling dekat dengan diri kita adalah kematian, yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu, yang paling besar di dunia ini adalah nafsu, yang paling berat di dunia ini adalah amanah, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat, yang paling tajam di dunia ini adalah lidah manusia."(Imam Al-Ghazali)

Bagi orang orang beriman melihat indahnya dunia hanya sebatas genggaman tangan, dia tak pernah sudi meletakkan dunia di hatinya, sehingga orang beriman tidak akan pernah sulit untuk melepas kenimatan nya dan berbagi dengan orang lain. Sebagaimana sebuah hadits yang mengatakan : “Letakkan dunia itu di tanganmu bukan di hatimu”

Maka sobat, manfaatkanlah nikmat harta, uang dan nikmat yang lain ke jalan yang di ridhoiNYA dan jangan berlebihan dalam menghabiskannya untuk kesenangan syahwat kita saja.

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan. (Ibnu Mas’ud)

Wallahu’alam

Tuesday, 30 Nop 2007 /18.00 wib

Coret2 sambil nunggu maghrib

Berapa banyak orang yang hanya mampu mengkritisi tapi tidak mampu memberikan kontribusi. Berapa banyak yang hanya mampu bergerak dalam tataran konsep tapi mandul ketika diminta terjun ke medan laga. Itulah yang kebanyakan terjadi pada bangsa ini. Ketika orang lain menginjakkan kakinya di medan bekerja begitu banyak yang siap menjadi pengamat tapi enggan ikut berjuang bersamanya. Tapi ketika sedikit kesalahan yang dilakukan karena keniscayaan, sebuah ketidak sempurnaan dari sorang manusia dan system yang dibuat oleh manusia maka dia begitu gigihnya menyalahkan bak pahlawan kesiangan.

Begitu dalam dunia dakwah. Dalam jamaah dakwah ini, tanpa sadar aku terseret perlahan ke dalam golongan orang-orang tersebut. Ketika saudara-saudaraku sudah bergerilya dari desa ke desa, dari ta’lim ke ta’lim . Pun ketika ada pesan amsuk di hp ku. ’Assalamu’alaikum.Ukhti tolong gantikan ane siang ini ngisi keputrian di kampus ya. ’afwan hari ane ndak bisa keluar kantor. Tolong ya..’. Seketika muncul seribu satu alasan ku untuk menolak permintaan ukhti tersebut. Terbayang di kepalaku perkerjaan kantor, tugas dakwah yang ingin aku kerjakan di waktu istirahat siang ini, menghadiri pengajian jumat siang, de el el. Sekan-akan alasan-alasan itu menjadi pisau yang sangat tajam untuk mematahkan permintaan ukhti ku tadi. Astaghfirulloh….maafkan aku ukhti..

Memang , jujur saat itu kaki ku seolah menjadi sangat berat melangkah untuk memenuhi permintaan itu. Jalanan yang biasanya pada jumat siang sangat padat, udara yang panas, tempat yang aku tidak begitu tahu dimana, seakan menjadikan pelengkap syahwat malas ku, ketika itu.

Seketika terlintas kembali di alam bawah sadarku buku yang baru aku baca malamnya ’Episode Cinta sang Murobbi’. Kisah tentang seorang mujahid dakwah yang sekarang telah di panggil oleh Robb-nya. Rumah yang reot, tapi dia mampu ’me-nyulap’ rawa-rawa dekat rumahnya menjadi Islamic Center yang penuh dengan kegiatan dakwah dan kajian-kajian ke-Islaman. Bagaimana dia mengorbankan waktu istirahat malamnya, ketika orang sudah lelap dengan mimpi indah dia masih bercengkrama membicarakan agenda dakwah dengan para sahabatnya sampai dini hari. Tapi aku…..???

Aku semakin tertohok ketika teringat sebuah seruan dari NYA ’Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah di jalan 4jj1….’ Tersentak aku seolah berada di jauh di inti bumi, aku merasa malu. Kenapa aku yang sudah menginfaq kan hidupku di jalanNYA bermental sangat memalukan seperti ini ?? Aku ingat salah satu taujih Almarhum syeikh tersebut di buku itu : ’Antum akan di uji pada titik terlemah antum’. Ya Alloh betapa lemahnya aku..Aku hampir gagal dalam ujian yang belum ada apa-apanya dibandingkan para pendahuku, aku nyaris kalah dengan syahwat ku. Tanpa pikir panjang, membiarkan jiwaku yang lemah semakin layu, aku mulai menyusun materi yang akan aku bawakan siang itu. Bismillah….

Sobat ku di jalan dakwah…

Sudah kah kita menyambut setiap seruan dakwah, seruan jihad dari NYA ? Ataukah kita lebih sering kalah dengan syahwat ketika seruan itu datang dengan berjuta alasan yang di ada-adakan ?? Na’udzubillah…

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS.At-Taubah:41)

« Newer Posts - Older Posts »