Jadi, apa yang harus kita
lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan"
seperti itu?
Pertama, marilah kita bertanya
kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu
"upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang
mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya?
Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses
ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenamya merupakan
sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat
berlangsung.
Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk
berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang
buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan
yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot
mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.
Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan
sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para
ulama kepada kita mengatakan," Pendapat kita memang benar, tapi mungkin
salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."
Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah
pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau
sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita
sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"?
Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan.
Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan.
Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran
objektif, walaupun -karena faktor setan- kita mengatakannya demikian.
Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan
gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah
jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan
kemaksiatan. Tapi, seadainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin
bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus
yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw.,
"Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan
begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi
kita.
Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan
pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah
atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan
dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada
sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar. Karena,
berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh.
Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan
yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap
bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai.
Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman
kepada-Nya.
Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan
keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi darnpak negatif
dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan
kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa
pengalaman salah seperti itu.
Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi
baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis,
tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan
satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya. Dengan begitu, hati kita menjadi
lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan
muncul setelah berialunya waktu. Dan,
alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di
sepanjang pengalaman dakwah kita.
Keempat, sesungguhnya dalam kedaksetujuan itu kita belajar tentang begitu
banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang
makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwah dan persatuan,
tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang
tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan
orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan
dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu
Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh kepada jamaah.
Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari
kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita.
Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang
sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan,
memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak
ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan
kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.
Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak
bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak
sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan
tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?
sumber: Menikmati Demokrasi, Anis Matta, Lc
sumber myquran.org postingan dari ARS